Mengenang Fuad Hasan Sang Maestro Biola Yang Menjadi Pionir Pendidkan Indonesia

Jakarta ,jakartaberisiknews.my.id|| Nama Prof. Dr. Fuad Hassan abadi dalam sejarah bangsa sebagai salah satu tokoh pendidikan paling berpengaruh di era Orde Baru. Menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) selama dua periode di masa Presiden Soeharto, pria kelahiran 26 Juni 1929 ini merupakan sosok multidimensi: seorang psikolog, diplomat, akademisi, sekaligus seniman berbakat.
Namun, di balik catatan karier politik dan akademisnya yang cemerlang, tersimpan kisah menarik tentang cita-cita masa muda yang kandas, namun justru membawanya menjadi tokoh besar tanah air.
Dari Biola ke Ranah Psikologi dan Filsafat
Sejak kecil, Fuad Hassan sejatinya bercita-cita menjadi seorang konduktor musik. Kecintaannya pada biola begitu besar, hingga pada usia 21 tahun, ia sempat mengikuti tes masuk sekolah musik di Roma, Italia. Meski jalannya di dunia musik profesional urung berlanjut akibat pengaruh seorang teman, bakat seninya tidak pernah pudar. Fuad dikenal andal bermain biola, melukis, bahkan berkuda.
Gagal menjadi konduktor, Fuad beralih ke dunia akademis. Ia memilih kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) dan lulus pada tahun 1958. Haus akan ilmu, ia melanjutkan studi filsafat di Universitas Toronto, Kanada (1962), sebelum akhirnya meraih gelar doktor dan dikukuhkan sebagai Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Psikologi UI.
Kiprah di Dunia Diplomasi dan Pemerintahan
Karier Fuad Hassan tidak terbatas di ruang kelas. Ia merupakan akademisi yang aktif di berbagai lini strategis, termasuk menjadi dosen di Seskoad, Seskoal, dan Lemhannas (1966-1976).
Langkah politiknya dimulai saat ia terpilih menjadi Anggota DPR/MPR pada 1968. Kemampuan diplomasinya yang andal membawa Fuad dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Mesir (merangkap Sudan, Somalia, dan Jibuti) pada periode 1976-1980. Sekembalinya ke Indonesia, ia menjabat sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Luar Negeri.
Puncak karier birokrasinya terjadi pada 30 Juli 1985. Fuad dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggantikan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto yang wafat. Kepercayaan Presiden Soeharto begitu besar kepadanya, hingga Fuad kembali ditunjuk mengisi pos menteri yang sama pada periode berikutnya. Ia juga sempat tercatat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).
Warisan Pemikiran dan Penghormatan
Sebagai seorang pemikir, Fuad Hassan meninggalkan warisan literatur yang sangat berharga. Salah satu karya monumentalnya adalah buku “Berkenalan Dengan Eksistensialisme” (1973). Buku setebal 144 halaman yang merangkum pemikiran filsuf dunia seperti Nietzsche dan Sartre ini begitu populer hingga sukses mencetak cetakan ke-9 pada tahun 2005.
Atas jasa dan pemikirannya, Fuad dianugerahi dua gelar Doktor Honoris Causa pada tahun 1990:
Bidang Ilmu Politik dari Kyungnam University, Seoul.
Bidang Filsafat dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur.
Akhir Perjalanan Sang Tokoh
Di luar kehidupan formalnya, Fuad Hassan dikenal masyarakat sebagai seorang perokok berat, meski ia akhirnya memutuskan total berhenti merokok pada tahun 2002.
Sang pionir pendidikan ini mengembuskan napas terakhirnya pada 7 Desember 2007 pukul 15.40 WIB di RSCM Jakarta akibat kanker paru-paru stadium 3. Fuad Hassan wafat pada usia 78 tahun dan dimakamkan dengan penghormatan penuh di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
Sumber: Wikipedia,facebook