CHINA PERINTAHKAN SEMUA PERUSAHAAN TETAP BELI MINYAK IRAN

BEIJING, 9 Mei 2026 jakartaberisiknews.my.id – Pemerintah China dilaporkan telah mengeluarkan arahan tegas kepada seluruh perusahaan dan kilang minyak dalam negeri untuk tetap membeli dan mengolah minyak mentah asal Iran, meski berhadapan langsung dengan sanksi serta tekanan ekonomi Amerika Serikat. Langkah ini menjadi bukti nyata ketegangan diplomatik dan ekonomi yang semakin memanas antara Beijing dan Washington terkait kebijakan blokade terhadap sektor energi Iran.

Menurut laporan Middle East Monitor, China secara resmi mengaktifkan kembali undang-undang anti-sanksi yang telah disahkan sejak tahun 2021. Aturan ini berfungsi melindungi badan usaha dan lembaga keuangan negaranya dari segala jenis hukuman atau pembatasan yang dijatuhkan AS akibat berdagang dengan Teheran. Otoritas China juga secara eksplisit melarang perusahaan domestik mematuhi sanksi sepihak yang diberlakukan pemerintah Trump terhadap kilang yang masih mengimpor minyak Iran.

Reuters mengonfirmasi bahwa impor minyak Iran ke China tetap berjalan stabil dan bahkan meningkat dalam beberapa pekan terakhir, meskipun AS terus memperketat pengawasan jalur pelayaran dan menjatuhkan sanksi baru. Bagi Beijing, kebijakan ini dianggap sebagai hak kedaulatan dan bentuk perlawanan terbuka terhadap apa yang mereka sebut sebagai “kekuasaan sepihak” Amerika Serikat dalam mengatur tatanan ekonomi dunia.

Di sisi lain, The Wall Street Journal menyoroti dampak besar langkah ini: dukungan ekonomi China menjadi penopang utama yang menjaga ekonomi Iran tetap berjalan, meski dikepung sanksi berat. Hal ini juga mengubah dinamika pasar energi global, karena keberadaan pembeli terbesar membuat sanksi AS menjadi jauh lebih lemah dan tidak efektif seperti yang diharapkan Washington.

Pemerintah Amerika Serikat sendiri belum merespons secara resmi, namun pejabatnya sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap negara atau perusahaan yang tetap berdagang dengan Iran akan menghadapi konsekuensi hukum dan pemutusan akses ke sistem keuangan AS. Langkah China ini kini memicu pertanyaan besar apakah AS berani menjatuhkan sanksi juga kepada raksasa ekonomi kedua dunia tersebut.

📰 Sumber: Middle East Monitor, Reuters, The Wall Street Journal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *