Menjaga Surabaya Saat Ribuan Silat Turun Ke Jalan Dan Keadilan Di Uji

(Foto Ahmad Zainuddin/Fb)

Jakarta jakartaberisiknews.my.id|| Kota Surabaya kembali diuji. Hari ini, kabar mengejutkan datang saat estimasi 10 ribu anggota PSHT berencana menggelar aksi di dua titik: markas debt collector M1R di Jalan Teuku Umar dan Mapolrestabes Surabaya.

Latar belakangnya? Solidaritas atas dugaan penganiayaan berat terhadap dua rekan mereka—Feri dan Didik—yang bekerja sebagai petugas valet parkir. Kemarahan ini tentu berdasar: tindakan kekerasan dan premanisme di jalanan tidak pernah bisa dibenarkan atas alasan apa pun. Siapa pun korbannya, hukum harus berdiri tegak!

Namun, membawa 10.000 orang ke jalanan kota sesibuk Surabaya jelas bukan perkara sepele. Niatnya aksi damai, tapi membayangkan pergerakan massa sebanyak itu saja sudah sukses bikin para pengguna jalan auto-membayangkan kemacetan horor dan mencari rute alternatif terjauh.

Menimbang Rasa Solidaritas vs Ketertiban Umum!

Solidaritas antar-saudara memang patut diacungi jempol, tapi mari kita jernihkan pikiran sejenak:

-Tuntutan Keadilan Itu Sah: Mengawal kasus hukum agar pelaku penganiayaan segera ditangkap adalah hak warga negara. Korban berhak mendapatkan keadilan secepat-cepatnya.

-Tapi, Surabaya Milik Bersama: Menyampaikan pendapat di muka umum itu dijamin undang-undang. Namun, menjaga agar Kota Pahlawan tetap aman, roda ekonomi tetap berputar, dan warga lainnya tidak ketakutan juga merupakan kewajiban bersama.

-Preseden Premanisme: Di sisi lain, kasus ini jadi cermin buram soal masih maraknya aksi main hakim sendiri dan gaya premanisme. Masalah seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut sampai warga merasa perlu “turun gunung” sendiri untuk menuntut keadilan.

Ujian Tegas Buat Kepolisian & Imbauan Bijak Buat Massa!

Pihak Polrestabes Surabaya sudah mengonfirmasi surat pemberitahuan aksi dan mendorong jalur mediasi. Di sinilah kepolisian diuji untuk bekerja ekstra cepat, transparan, dan profesional. Tangkap pelakunya segera! Sebab, penegakan hukum yang pasti dan cepat adalah kunci utama agar massa tidak perlu meluapkan emosinya di jalanan.

Sementara untuk saudara-saudara yang turun ke jalan:

-Dampingi proses hukum ini dengan kepala dingin.

-Tunjukkan bahwa pendekar silat bukan cuma jago di gelanggang atau ramai di jalanan, tapi juga teladan dalam menjaga kedamaian kota. Jangan sampai aksi menuntut keadilan justru ternoda oleh oknum provokator yang memicu konflik baru.

Semoga hukum ditegakkan seadil-adilnya, pelaku kekerasan segera memakai baju tahanan, dan Surabaya tetap aman serta kondusif bagi semua warganya.

Sumber Berita : FB Ahmad Zainuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *